Pages

Banner 468 x 60px

 

AD/ART Liga Komunis

ANGGARANDASAR/ANGGARAN RUMAH TANGGA LIGA KOMUNIS

KaumBuruh sedunia Bersatu lah!
BAGIANI: TENTANG LIGA
Pasal1:
Tujuandari Liga adalah untuk menggulingkan borjuasi, menegakkan kekuasaan proletariat,menghapuskan masyarakat borjuis lama yang berdiri di atas antagonismekelas-kelas; dan meletakan dasar/pondasi sebuah masyarakat baru tanpa kelas dantanpa kepemilikan perseorangan
Pasal2:
Syarat-syaratkeanggotaan diatur sebagai berikut:
a. Cara hidup dan aktifitas yang berkesesuaian dengan tujuan-tujuanorganisasi.
b. Sanggup mengusung semangat revolusioner dan memiliki keberanianberpropaganda.
c. Pengakuan dan penerimaan atas Komunisme.
d. Tidak berpartisipasi dalam segala organisasi dan pergerakan politik antikomunisme; dan wajib memberitahukan segala partisipasi keorganisasian lainnyakepada pimpinan liga.
e. Tunduk kepada keputusan-keputusan Liga.
f. Siap menjaga kerahasiaan dan keberadaan segala urusan Liga,lingkaran-lingkaran Poros, Pimpinan Sentral dan Konggres.
Pasal 3
Setiapanggota adalah setara dan bersaudara. Berkewajiban untuk saling membantu dalamsituasi apapun.
Pasal 4
Setiapanggota menyandang nama organisasi dan menjaga kehormatan Liga.
Pasal 5
Ligadiorganisasikan dalam Komunitas-komunitas, Lingkaran-lingkaran,Lingkaran-lingkaran Poros, Pimpinan Sentral dan Konggres.
BAGIANII: TENTANG KOMUNITAS
Pasal6
Suatukomunitas terdiri atas paling sedikit 3 (tiga) atau maksimal 20 (dua puluhanggota).
Pasal7
Tiapkomunitas memilih seorang Ketua dan Wakil Ketua. Seorang Ketua Komunitasmenyelenggarakan pertemuan dan rapat-rapat; Wakil Ketua menangani persoalanpendanaan dan mewakili Ketua saat yang bersangkutan tidak hadir.
Pasal8
Penerimaanatas anggota baru dikukuhkan oleh Ketua, dengan didasarkan pada pertimbangananggota-anggota lainnya dan dengan rekomendasi dari komunitas.
Pasal9
AntarKomunitas yang lain tidak saling mengetahui; dan juga tidak mengadakankorespondensi (secara perseorangan) di antara mereka.
Pasal10
Komunitas-komunitasyang ada mengenakan nama/identitas yang berbeda-beda.
Pasal11
Tiapanggota komunitas yang akan mengubah domisili/tempat kediamannya, harusmemberitahukan lebih dulu kepada Ketua Komunitas.
BAGIANIII: TENTANG LINGKARAN
Pasal12
SebuahLingkaran terdiri dari paling sedikit 2 (dua) atau maksimal 10 (sepuluh) buahkomunitas.
Pasal13
Ketuadan Wakil Ketua dari Komunitas-komunitas yang ada membentuk lingkaran-lingkaran.Lingkaran-lingkaran yang ada membentuk sebuah Lingkaran Poros. Lingkaran Porosmemilih seorang Presiden. Presiden inilah yang akan menghubungkankomunitas-komunitas yang ada dengan Lingkaran Poros.
Pasal14
LingkaranPoros adalah organ eksekutif bagi semua komunitas, yang menaungiLingkaran-lingkaran yang ada.
Pasal15
Komunitas-komunitasyang letaknya sedemikian jauh, harus menggabungkan diri dengan Lingkaran yangtelah ada; atau membentuk sendiri sebuah Lingkaran yang baru denganKomunitas-komunitas yang juga berjauhan letaknya.
BAGIANIV: TENTANG LINGKARAN POROS
Pasal16
Lingkaran-lingkaranyang ada di sebuah negeri atau propinsi, tunduk kepada Lingkaran Poros.
Pasal17
PembagianLingkaran-lingkaran Liga ke dalam Propinsi-propinsi; dan penunjukan LingkaranPoros dikukuhkan oleh Kongres, melalui pengajuan usulan oleh Pimpinan Sentral.
Pasal18
LingkaranPoros adalah institusi tertinggi bagi lingkaran-lingkaran lainnya di dalamsebuah Propinsi. Lingkaran Poros inilah yang menghubunngkan lingkaran-lingkaranyang ada, dengan Pimpinan Sentral.
Pasal19
Lingkaran-lingkaranyang baru dibentuk, bergabung dengan Lingkaran Poros terdekat.
Pasal20
SebuahLingkaran Poros bertanggung jawab kepada Pimpinan Sentral dan kepada institusiyang tertinggi dalam organisasi, yakni Kongres.
BAGIANV: TENTANG PIMPINAN SENTRAL
Pasal21
PimpinanSentral adalah organ eksekutif Liga secara keseluruhan. Pimpinan Sentralbertanggungjawab kepada Kongres.
Pasal22
PimpinanSentral setidak-tidaknya terdiri dari 5 (lima) anggota dan dipilih dariLingkaran Poros, dan keberadaannya ditetapkan dalam Kongres.
Pasal23
PimpinanSentral berhubungan dengan Lingkaran-lingkaran Poros setidaknya tiap 3 (tiga)bulan sekali. Lingkaran-lingkaran Poros memberikan laporan perihal perkembangansecara keseluruhan.
BAGIANVI: TENTANG PENGATURAN-PENGATURAN UMUM
Pasal24
Komunitas-Komunitas,Lingkaran-Lingkaran Poros, dan Pimpinan Sentral bertemu setidaknya sekali dalamdua minggu.
Pasal25
KeanggotaanLingkaran Poros dan Pimpinan Sentral dipilih setahun sekali, dan dapat dipilihkembali atau diberhentikan setiap saat oleh pemilih-pemilihnya.
Pasal26
Pemilihantersebut di atas dilakukan pada bulan September.
Pasal27
LingkaranPoros berkewajiban memandu diskusi-diskusi dalam Komunitas agar tetap sesuaidengan tujuan-tujuan Liga.
Pasal28
Angota-anggotayangbergabung ke dalam liga secara perorangan harus berhubungan dengan LingkaranPoros, setidaknya satu kali dalam 3 (tiga) bulan; dan mereka juga juga mempunyaikewajiban untuk berhubungan dengan anggota dari komunitasnya sendiri palingtidak sebulan sekali. Tiap Lingkaran berkewajiban membuat laporan tentangdistriknya kepada Lingkaran Poros, setidaknya satu kali dalam dua bulan.Sedangkan bagi Lingkaran Poros wajib membuat laporan kepada Pimpinan Sentralminimal satu kali dalam tiap tiga bulan.
Pasal29
TiapPimpinan Liga -- dalam berbagai jenjang/tingkatan wajib menjalankan tugas denganmenerapkan patokan-patokan yang mengabdi pada standar keamanan dan efektifitaskerja Liga. Oleh karena itu tiap Pimpinan wajib memberitahukan/mengingatkanstruktur Pimpinan di atasnya -- perihal patokan-patokan/satndar-standar yangdimaksud di atas -- bila dipandang perlu.
BAGIANVII: TENTANG KONGRES
Pasal30
Kongresadalah institusi tertingi dalam Liga. Semua usulan untuk pergantian/perubahanAD/ART dikirimkan kepada Pimpinan Sentral, melalui Lingkaran-lingkaran Poros;untuk diterima dalam kongres.
Pasal31
TiapLingkaran mengirimkan satu orang delegasi.
Pasal32
Bagitiap Lingkaran yang terbentuk dari keanggotaan perorangan berlaku ketentuansebagai berikut: Lingkaran yag terdiri dari 30 anggota mengirimkan satu orangdelegasi. Bagi Lingkaran yang branggotakan kurang dari 60 orang, mengirim duaorang delegasi. Bagi yang kurang dari 90 mengirim tiga delegasi; demikianseterusnya. Lingkaran yang ada dapat direpresentasikan oleh anggota Liga yangtidak berasal dari lingkaran sendiri. Untuk hal ini, secara khusus, Lingkaranyang bersangkutan harus menyertakan mandat yang terinci bagi delegasinya.
Pasal33
Kongresdiselenggarakan pada bulan Agustus tiap tahunnya. Dalam keadaan mendesakPimpinan Sentral dapat mengundang sebuah Kongres Luar Biasa.
Pasal34
Kongresmenetapkan keanggotaan Pimpinan Sentral yang akan berlaku sampai dengan tahunberikutnya. Kongres juga menetapkan tempat penyelenggaraan Kongres berikutnya.
Pasal35
PimpinanSentral hadir dalam kongres, namun tidak memiliki hak pilih yang menentukan.
Pasal36
Kongresakan mengeluarkan Manifesto atas nama Liga.
BAGIANVIII: PELANGGARAN-PELANGGARAN ORGANISASI
Pasal37
Siapapunyang melanggar syarat-syarat keanggotaan yang telah diatur dalam pasal 2 akandigeser atau, sesuai dengan berat ringannya pelanggaran. Pemberhentaian tersebutmempersulit seorang bekas anggota, bila ia hendak bergabung kembali kedalam Liga.
Pasal38
HanyaKongres yang mensahkan keputusan pemberhentian/ pemecatan.
Pasal39
Keanggotaanperorangan dapat dibatalkan oleh sebuah Lingkaran atau Komunitas (yang letaknyajauh/terpencil). Proses ini dilanjutkan dengan pemberitahuan segera kepadajajaran yang lebih tinggi. Betapapun hanya Kongres yang berwenang untukmenetapkan pemberhentain/pemecatan.
Pasal40
Prosespenerimaan kembali anggota yang telah diberhentikan di tangani oleh PiminanSentral, dengan rekomendasi dari Lingkaran.
Pasal41
Lingkaranporos memberikan pertimbangan atas pelanggaran yang telah dilakukan terhadapLiga. Lingkaran poros juga bertugas mengawasi pelaksanaan sanksi.
Pasal42
Angota-angotayang telah digeser atau diberhentikan oleh Liga -- sebagaimana orang-orang yangdikenakan hukuman pada umumnya -- harus diawasi demi kepentingan Liga; dan harusdicegah untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat merugikan Liga.
BAGIANIX: TENTANG PENDANAAN LIGA
Pasal43
Kongresmenetapkan patokan (yang disesuaikan bagi tiap negeri) atas iuran yang perludisumbangkan oleh tiap anggota.
Pasal44
Setengahdari keseluruhan iuran tersebut akan dimaksudkan ke dalam kas Pimpinan Sentral,sedangkan selebihnya akan dialokasikan bagi dana Lingkaran atau komunitas yangbesangkutan.
Pasal45
Danayang dikumpulkan Pimpinan Sentral dipergunakan untuk:
1.Menutup biaya-biaya korespondensi dan administrasi.
2.Mencetak dan mendistribusikan selebaran-selebaran propaganda.
3.Mengirimkan utusan-utusan Pimpinan Sentral dalam kerja-kerja khusus.
Pasal 46
Dana yangdikumpulkan oleh jajaran Pimpinan lokal dipergunakan untuk:
1. Menutupbiaya-biaya korespondensi.
2.Mencetak dan mendistribusikan selebaran-selebaran propaganda.
3.Mengirman utusan-utusan bila dipandang perlu.
Pasal 47
Komunitas-Komunitasdan Lingkaran-Lingkaran yang tidak menjalankan kewajiban-kewajiban membayariuran, selama enam bulan berturut-turut; akan menerima pemberitahuan dariPimpinan Sentral perihal penyingkiran mereka dari Liga.
Pasal 48
PimpinanSentral harus menerbitkan laporan perhitungan pengeluaran dan pemasukan PimpinanSentral kepada seluruh komunitas; setidak-tidaknya tiga bulan sekali. PimpinanSentral harus menyerahkan laporan pertanggungjawaban dan perhitungan berkenaanpengalokasian dana-dana Liga, maupun keadaan keuangan terakhir dari Liga. Tiappenyelahgunaan dana-dana Liga akan dikenakan sanksi yang sangat berat.
Pasal 49
PenyelenggaraanKongres Luar Biasa maupun pengadaan biaya-biaya diluar dugaan diambil darisumber-sumber keuangan luar biaya-biaya juga
BAGIANX: TENTANG PENERIMAAN KEANGGOTAAN
Pasal50
KetuaKomunitas membacakan AD/ART kepada calon-calon anggota (pasal 1 s/d 49). KetuaKomunitas menjelaskannya kepada mereka. Memberikan pembahasan secara singkat danmemberikan penekanan secara khusus perihal kewajiban-kewajiban yang diharapkandari seorang anggota baru. Kemudian Ketua Komunitas akan mengeluarkan pertanyaan:“Apakah sekarang engkau ingin menjadi anggota Liga?” Bila jawabannya “ya”,Ketua Komunitas akan mengangkat sumpah. Sumpah bahwa yang bersangkutan akanmemenuhi kewajiban-kewajiban sebagai anggota Liga, kemudian Ketua akanmensyahkan keanggotaannya ke dalam Liga. Dan akan memperkenalkannya kepadaKomunitas yang bersangkutan pada pertemuan berikutnya.
London,8 Desember, 1847
Atasnama Kongres Kedua Liga Komunis yang diselenggarakan pada musim gugur tahun1847.
Sekretaris Presiden
Tertanda Tertanda
Engels Karl Schapper
Read more...

Mengenai Masalah Perdagangan Bebas

Karl Marx
Pidato Pada Rapat Umum Assosiasi Demokratik Brussels, 9 Januari 1848
Mengenai Masalah Perdagangan Bebas
Versi Inggris :On Free Trade; Speech to the Democratic Association of Brussels at its public meeting of January 9, 1848
Publikasi Awal
: Bentuk Pamplet, Februari 1848 di Brussels
Versi Online : Indomarxist.Net, Http://come.to/indomarxist, 30 Mei 2003
Kontributor :
Edi Cahyono


Tuan-tuan,
Pencabutan Undang-undang Gandum di Inggris merupakan kemenangan terbesar dari perdagangan bebas di abad ke sembilan-belas. Di setiap negeri di mana kaum manufaktur berbicara tentang perdagangan bebas, yang terutama ada dalam pikiran mereka ialah perdagangan bebas gandum dan bahan-bahan mentah pada umumnya. Mengenakan bea-bea masuk yang bersifat protektif atas gandum asing adalah sangat tak-terpuji, itu berarti berspekulasi atas kelaparan rakyat banyak.
Makanan murah, upah-upah yang tinggi, inilah tujuan tunggal yang untuknya para pedagang-bebas Inggris telah menghabiskan berjuta-juta, dan antusiasme mereka sudah menyebar pada saudara-saudara mereka di wilayah Kontinen. Berbicara secara umum, mereka yang berpihak pada perdagangan bebas menghasratkan itu untuk meningkatkan kondisi klas pekerja.
Namun, sungguh aneh, rakyat banyak yang dengan segala cara diusahakan mendapatkan makanan murah adalah sangat tidak berterima-kasih. Makanan murah sama dipandang hina di Inggris seperti halnya pemerintah murah di Perancis. Rakyat melihat pada tuan-tuan yang mengorbankan-diri ini, pada Bowring, Bright & Co., musuh-musuh mereka yang terburuk dan kaum munafik yang paling tidak tahu malu.
Setiap orang mengetahui bahwa di Inggris pergulatan antara kaum Liberal dan kaum Demokrat berlangsung atas nama perjuangan antara kaum Pedagang-bebas dan kaum Chartis.
Mari kita melihat bagaimana para pedagang-bebas Inggris telah membuktikan pada rakyat semua niat baik yang mendorong mereka.
Inilah yang mereka katakan pada kaum buruh pabrik:
"Bea masuk yang dikenakan atas gandum adalah suatu pajak atas upah-upah; pajak ini anda bayarkan pada para tuan-tanah, kaum aristokrat zaman pertengahan itu; jika posisi anda adalah posisi yang sangat terpuruk, itu disebabkan oleh mahalnya kebutuhan-kebutuhan kehidupan yang paling langsung."Kaum buruh, pada gilirannya, bertanya pada kaum manufaktur itu:
"Bagaimana terjadinya, bahwa dalam proses tiga-puluh tahun terakhir, selagi industri kita mengalami perkembangan terbesar, upah-upah kami telah jatuh jauh lebih cepat, dalam proporsinya, ketimbang harga gandum yang naik itu?
Pajak yang menurut kalian kami bayarkan pada kaum tuan-tanah adalah kurang-lebih tiga pence seminggu per pekerja. Namun begitu upah-upah kaum perajut tangan telah jatuh, antara 1815 dan 1843, dari 28 shilling per minggu menjadi 5 shilling, dan upah-upah para perajut dengan alat mesin, antara l1823 dan 1843, telah jatuh dari 20 shilling seminggu menjadi 8 shilling.
Dalam selama seluruh periode ini, porsi pajak yang kami bayar pada tuan-tanah tidak pernah melampaui tiga pence. Dan, kemudian, di tahun 1843, ketika roti sangat murah harganya dan bisnis berjalan dengan sangat baiknya, apakah yang kalian katakan pada kami? Kalian mengatakan, Jika kalian tidak mujur, itu adalah karena kalian mempunyai terlalu banyak anak, dan perkawinan-perkawinan kalian adalah lebih produktif daripada kerja kalian!
Inilah kata-kata kalian yang diucapkan pada kami, dan kalian mulai membuat Undang-undang Kemiskinan baru, dan membangun pabrik-pabrik, (benteng-benteng) Bastille kaum proletariat itu."
Menjawab ini kaum manufaktur mengatakan:
"Kalian benar, kaum pekerja yang terhormat; tidak hanya harga gandum saja, tetapi persaingan di antara para pekerja sendiri juga, yang menentukan upah-upah.
Tetapi renungkanlah satu hal, yaitu, bahwa tanah kita terdiri hanya atas batu karang dan medan-medan pasir. Tentunya kalian tidak membayangkan bahwa gandum dapat tumbuh dalam pot-pot kembang. Maka itu, jika gantinya memesta-riakan modal kita dan kerja kita atas tanah yang sepenuhnya steril, kita harus melepaskan agrikultur, dan mengabdikan diri kita secara khusus pada industri, maka seluruh Eropa akan meninggalkan pabrik-pabriknya, dan Inggris akan membentuk suatu kota pabrik raksasa, dengan seluruh sisa Eropa sebagai pedesaannya."
Sementara secara demikian itu mengusik para pekerjanya sendiri, sang manufaktur diinterogasi oleh sang pedagang kecil, yang berkata:
"Jika kita mencabut Undang-undang Gandum, kita memang akan menghancurkan agrikultur; tetapi walaupun begitu, kita tidak akan memaksa bangsa-bangsa lain agar mereka melepaskan pabrik-pabrik mereka sendiri dan membeli dari pabrik-pabrik kita.
Apakah dan bagaimanakah akan konsekuensinya? Saya akan kehilangan pelanggan-pelanggan yang kupunyai sekarang di pedesaan, dan perdagangan rumahan akan kehilangan pasarnya."
Si Manufaktur, sambil membalikkan badan dan membelakangi kaum pekerja, menjawab sang pemilik toko:
"Oh, mengenai hal itu, serahkan saja hal itu pada kami! Begitu bea masuk atas gandum itu hapus, kita akan mengimpor gandum yang lebih murah dari luar negeri. Kemudian akan kita turunkan upah-upah pada saat bertepatan upah-upah itu naik di negeri-negeri dari mana kita mendapatkan gandum kita.
Dengan demikian, sabagai tambahan keuntungan yang sudah kita nikmati, kita juga akan mendapatkannya dari upah-upah yang lebih rendah dan, dengan semua keuntungan ini, kita akan dengan mudah memaksa Daratan (Eropa) untuk membeli dari kita."
Tetapi kini para pengusaha pertanian dan kaum pekerja agrikultur bergabung di dalam diskusi itu.
"Dan, mohon diterangkan, apakah yang akan jadinya kita-kita ini?
Akankah kita menjatuhkan suatu hukuman mati pada agrikultur, dari mana kita mendapat nafkah kita? Mestikah kita memperkenankan tanah direnggut dari bawah kaki kita?"
Sebagai keseluruhan jawabannya, Lembaga Undang-undang Anti-Gandum telah mencukupkan diri dengan menawarkan hadiah-hadiah bagi tiga essai terbaik mengenai pengaruh sehat pencabutan Undang-undang Gandum itu atas agrikultur Inggris.
Hadiah-hadiah ini telah digondol oleh Tuan-tuan Hope, Morse dan Greg, yang esai-essainya didistribusikan dalam jumlah ribuan copy di seluruh pedesaan.
Yang pertama dari para pemenang hadiah itu mencurahkan dirinya pada pembuktian bahwa petani pesewa tanah maupun pekerja agrikultur tidak akan kehilangan apa-apa dengan pengimporan gandum luar negeri secara bebas, dan bahwa yang rugi itu hanyalah si tuan-tanah. "Petani pesewa-tanah Inggris," demikian ia berkata,
"tidak perlu takut pada pencabutan Undang-undang Gandum, karena tidak ada negeri lain yang dapat mrmproduksi gandum yang sebagus dan semurah Inggris.
Demikianlah, bahkan apabila harga gandum jatuh, itu tidak akan merugikan anda, karena kejauhan harga ini hanya akan mempengaruhi sewa, yang akan turun, dan sama sekali bukanlah laba industrial dan upah-upah, yang akan tetap tidak berubah."
Pemenang-hadiah kedua, tuan Morse, sebaliknya mempertahankan, bahwa harga gandum akan naik sebagai akibat dari pencabutan Undang-undang Gandum itu. Ia berusaha dengan susah-payah untuk membuktikan bahwa bea-bea masuk yang bersifat protektif tidak pernah mampu menjamin suatu harga yang menguntungkan bagi gandum.
Dan menunjang pernyataannya ia mengutip kenyataan bahwa, pabila gandum asing telah diimpor, harga gandum di Inggris naik secara sangat berarti, dan apabila cuma sedikit gandum yang diimpor, maka harga gandum sangat jatuh. Sang pemenang hadiah ini lupa bahwa pengimporan bukanlah sebab dari harga yang tinggi itu, tetapi bahwa harga yang tinggi itulah sebab dari pengimporan.
Dan dalam pertentangan langsung dengan sesama pemenang-hadiah itu, ia menyatakan bahwa setiap kenaikan harga gandum adalah menguntungkan bagi petani pesewa tanah maupun pekerja pertanian, tetapi tidak menguntungkan bagi tuan-tanah.
Pemenang-hadiah yang ketiga, Tuan Greg, yang adalah seorang manufaktur besar dan yang pekerjaannya tertuju pada petani-petani pesewa tanah besar, tidak tahan terhadap ketololan-ketololan seperti itu. Bahasanya lebih ilmiah.
Ia mengakui bahwa Undang-undang Gandum dapat menaikkan sewa hanya dengan menaikkan harga gandum, dan bahwa mereka dapat menaikkan harga gandum hanyalah dengan memaksa penerapan modal pada tanah yang kualitasnya rendah, dan ini dapat dijelaskan dengan sederhana sekali.
Dalam proporsi pertambahan penduduk, jika gandum luar negeri tidak dapat diimpor, maka tanah yang kurang subur mesti dipakai, yang pembudi-dayaannya menyangkut biaya lebih besar dan produk tanah ini karenanya menjadi lebih mahal.
Karena terdapat penjualan gandum secara paksa, maka harganya dengan sendirinya akan ditentukan oleh harga produk dari tanah yang paling mahal. Beda antara harga ini dan biaya produksi di tanah yang berkualitas lebih baik membentuk sewa itu.
Jika, oleh karenanya, sebagai hasil pencabutan Undang-undang Gandum, harga gandum dan sebagai konsekuensinya sewa itu jatuh, itu adalah karena tanah yang kualitasnya rendah tidak akan dibudi-dayakan lagi. Demikianlah, reduksi sewa mau-tidak-mau mesti menghancurkan sebagian kaum petani pesewa tanah.
Catatan-catatan ini diperlukan agar supaya menjadikan bahasa tuan Greg itu dapat dimengerti.
"Para pengusaha pertanian kecil," demikian tuan Greg berkata,
"yang tidak dapat menghidupi diri dengan agrikultur akan mendapatkan suatu sumber dari industri. Sedang bagi para pengusaha pertanian pesewa tanah, mereka itu tidak akan gagal mendapatkan laba. Sebab, para tuan-tanah akan terpaksa menjual tanah kepada mereka dengan harga sangat murah, atau menyewakannya pada mereka untuk jangka-waktu sangat panjang. Ini akan memungkinan para petani pesewa tanah itu menanamkan jumlah-jumlah besar modal atas tanah itu, untuk menggunakan mesin-mesin pertanian dalam skala lebih besar, dan menghemat kerja manual yang akan, lagi pula, menjadi lebih murah, disebabkan oleh kejatuhan umum dari upah-upah, yaitu akibat langsung dari pencabutan Undang-undang Gandum itu."Dr. Bowring memberkati semua argumentasi ini dengan persucian agama, dengan berseru pada suatu rapat umum, "Jesus Kristus adalah Perdagangan Bebas, dan Perdagangan Bebas adalah Jesus Kristus."
Orang dapat mengerti bahwa semua kemunafikan ini tidak diperhitungkan untuk menjadikan roti murah menarik bagi kaum buruh.
Kecuali itu, bagaimana kaum pekerja dapat memahami filantropi tiba-tiba dari kaum manufaktur itu, orang-orang yang justru masih sibuk bertempur melawan Undang-undang Sepuluh Jam Kerja, yang adalah untuk mengurangi hari kerja kaum pekerja pabrik dari duabelas jam menjadi sepuluh jam?
Sebagai gambaran akan ide filantropi kaum manufaktur ini, tuan-tuan, saya ingin mengingatkan kalian, pada peraturan-peraturan pabrik yang berlaku di semua pabrik (penggilingan).
Setiap pengusaha manufaktur bagi kepentingannya sendiri menggunakan suatu kode pidana tertentu di mana denda-denda ditetapkan untuk setiap pelanggaran dengan sengaja atau yang tidak di sengaja. Misalnya, pekerja membayar sekian jika ia terkena sial dan duduk di atas sebuah kursi; jika ia berbisik, atau berbicara, atau ketawa; jika ia tiba di pabrik beberapa menit terlambat; jika suatu bagian dari mesin rusak, atau jika ia tidak menghasilkan pekerjaan dari kualitas yang diminta, dsb., dsb. Denda-denda itu selalu lebih besar daripada kerusakan yang sesunggunya dibuat oleh pekerja itu. Dan untuk memberikan setiap kesempatan pada pekerja itu untuk dikenai denda, jam pabrik disetel lebih dini, dan pada pekerja diberikan bahan mentah yang buruk untuk diolah menjadi barang-barang jadi yang baik. Seorang mandor bisa dipecat karena tidak cukup trampil dalam memperbanyak kasus-kasus pelanggaran peraturan.
Anda lihatlah, tuan-tuan, perundang-undangan swasta ini diberlakukan dengan tujuan istimewa untuk menciptakan pelanggaran-pelanggaran seperti itu, dan pelanggaran-pelanggaran itu dibuat dengan maksud menciptakan uang. Demikianlah kaum manufaktur itu menggunakan segala cara untuk mengurangi upah nominal, dan bahkan menarik keuntungan dari kecelakaan-kecelakaan yang berada di luar kendali kaum buruh.
Para pengusaha manufaktur ini adalah para filantropis; yang telah berusaha membuat kaum buruh percaya bahwa mereka mampu mengikhtiarkan segalanya demi untuk meningkatkan nasib mereka. Demikian, di satu pihak, mereka menggerogoti upah-upah kaum buruh dengan cara-cara yang licik, dengan mengadali peraturan-peraturan pabrik dan, di lain pihak, mereka melakukan pengorbanan-pengorbanan besar untuk menaikkan upah-upah itu dengan jalan Lembaga Anti Undang-undang Gandum.
Mereka membangun istana-istana besar dengan mengeluarkan biaya-biaya luar-biasa besarnya, dan Lembaga itu dengan cara-cara tertentu menjadikan istana-istana itu tempat huniannya; mereka mengirimkan sepasukan misionaris ke segala penjuru Inggris untuk mengkhotbahkan perdagangan bebas; mereka telah mencetak dan menyebarkan secara Cuma-Cuma ribuan pamflet untuk mencerahkan kaum buruh akan kepentingan-kepentingannya sendiri, mereka menghabiskan jumlah-jumlah dana luar-biasa besarnya untuk membikin pers menguntungkan kepentingan mereka; mereka mengorganisasi sebuah sistem yang luar-biasa luasnya untuk melaksanakan gerakan perdagangan bebas itu, dan mereka memperagakan seluruh kekayaan kefasihan mereka di rapat-rapat umum. Adalah pada salah satu rapat-rapat itu seorang pekerja meneriakkan:
"Andaikata para tuan-tanah menjual tulang-tulang kami, adalah kalian: kaum pengusaha manufaktur akan yang paling pertama menjadi pembelinya untuk memasukkannya dalam penggilingan-uap dan menjadikan tulang-tulang itu tepung."Kaum buruh telah sangat memahami arti-penting perjuangan antara para tuang-tanah dan kaum kapitalis industrial. Mereka sangat mengetahui bahwa harga roti mesti diturunkan agar upah-upah diturunkan, dan bahwa laba industrial akan naik setaraf dengan jatuhnya sewa.
Ricardo, murid para pedagang-bebas Inggris, ahli ekonomi paling terkemuka negeri kita, sepenuhnya setuju dengan kaum buruh dalam satu hal ini. Dalam bukunya yang termashur mengenai ekonomi politik, ia mengatakan:
"Apabila sebagai gantinya kita menanam gandum kita sendiri…… kita menemukan suatu pasaran baru dari mana kita dapat mensuplai diri kita…. dengan harga yang lebih murah, maka upah-upah akan turun dan laba akan naik. Jatuhnya harga produksi agrikultur menurunkan upah-upah, tidak saja dari buruh yang dipekerjakan dalam pembudi-dayaan tanah, tetapi juga dari semua yang dipekerjakan dalam perdagangan atau manufaktur."Dan janganlah percaya, tuan-tuan, bahwa adalah soal ketak-acuhan kaum buruh apakah ia hanya menerima empat franc karena harga gandum lebih murah, sedangkan sebelumnya ia menerima lima franc.
Tidakkah upah-upah telah selalu jatuh jika dibandingkan dengan laba, dan tidakkah jelas bahwa kedudukan sosialnya telah menjadi semakin buruk jika dibandingkan dengan kedudukan si kapitalis? Dan kecuali itu, ia sesungguhnya kehilangan jauh lebih banyak lagi.
Selama harga gandum lebih tinggi dan upah-upah juga lebih tinggi, suatu penghematan dalam konsumsi roti cukuplah untuk memberikan padanya kesenangan-kesenangan lainnya. Tetapi seketika roti itu sangat murah, dan upah-upah karenanya sangat murah, ia nyaris bisa tidak menghemat apapun atas roti ini untuk membeli barang-barang lain.
Kaum buruh Inggris telah membuat kaum pedagang-bebas Inggris menyadari bahwa mereka bukan korban dari ilusi-ilusi atau kebohongan-kebohongan mereka; dan apabila, sekalipun demikian, kaum buruh berjuang bersama mereka terhadap kaum tuan-tanah, itu adalah dengan maksud menghancurkan sisa-sisa terakhir feodalisme dan agar tersisa satu musuh saja untuk dihadapi. Kaum buruh tidak salah-perhitungan, karena kaum tuan-tanah, demi membalas-dendam terhadap para pengusaha manufaktur itu, telah berjuang bersama dengan kaum buruh untuk menggoalkan Undang-undang Sepuluh (Jam Kerja), yang oleh yang tersebut belakangan ini telah gagal dituntut selama tigapuluh tahun, dan yang disahkan seketika sesudah pencabutan Undang-undang Gandum.
Ketika Dr. Bowring pada Kongres Para Ahli Ekonomi, mengeluarkan sebuah daftar panjang dari sakunya untuk menunjukkan betapa banyak ternak, berapa banyak ham, daging, unggas dsb. telah diimpor oleh Inggris, untuk dikonsumsi-sebagaimana ia tegaskan-oleh kaum buruh, sungguh malang sekali ia lupa mengatakan bahwa pada waktu itu kaum buruh Manchester dan kota-kota industri lainnya sedang mendapatkan diri mereka terlempar ke atas jalanan-jalanan oleh krisis yang sedang mulai.
Sebagai hal azasi dalam ekonomi politik, angka-angka satu tahun saja tidak pernah dipakai sebagai dasar untuk merumuskan hukum-hukum umum. Orang mesti senantiasa mengambil kurun-waktu rata-rata dari enam hingga tujuh tahun-suatu kurun waktu yang dilalui industri modern untuk berbagai tahapan kemakmuran, kelebihan-produksi, stagnasi, krisis, dan lengkap menjalani daurnya yang tidak dapat dihindari.
Jelaslah, apabila harga dari semua barang-dagangan jatuh-dan ini adalah akibat yang tidak terhindari dari perdagangan bebas-saya dapat membeli jauh lebih banyak untuk satu franc daripada sebelumnya. Dan uang franc-nya seorang buruh adalah sama baiknya seperti orang lain yang manapun. Karenanya, perdagangan bebas akan sangat menguntungkan bagi pekerja itu. Dalam hal ini hanya ada suatu perbedaan kecil, yaitu, bahwa si pekerja, sebelum menukarkan uang franc-nya dengan barang-barang dagangan lainnya, ia lebih dulu menukarkan kerjanya dengan si kapitalis. Jika dalam pertukaran ini ia selalu menerima franc tersebut untuk kerja yang sama dan harga dari semua barang-dagangan jatuh, maka ia selalu menjadi yang diuntungkan oleh pertukaran seperti itu. Kesulitannya tidaklah terletak pada pembuktian bahwa, jika harga dari semua barang-dagangan jatuh, akan didapatkan lebih banyak barang-dagangan untuk (jumlah) uang yang sama itu.
Para ahli ekonomi selalu berpegang pada harga kerja pada saat itu dipertukarkan dengan barang-barang dagangan lain. Mereka sama sekali mengabaikan saat di mana kerja melaksanakan pertukarannya sendiri dengan modal.
Manakala lebih sedikit pengeluaran (pembiayaan) diperlukan untuk menggerakkan mesin yang memproduksi barang-barang dagangan, maka hal-hal yang diperlukan bagi pemeliharaan mesin ini, yang disebut buruh itu, akan juga lebih kecil ongkosnya. Jika semua barang-dagangan lebih murah, maka kerja, yang adalah juga barang-dagangan, akan jatuh pula harganya, dan, sebagaimana kemudian akan kita lihat, barang-dagangan ini, kerja, akan jatuh secara proporsional jauh lebih rendah daripada barang-barang dagangan lainnya. Jika si buruh masih memancangkan kepercayaannya pada argumen-argumen para ahli ekonomi, ia akan mendapatkan bahwa (uang) franc itu telah lumer dalam sakunya, dan bahwa yang tersisa cuma lima sous.
Mengenai hal itu para ahli ekonomi akan mengatakan:
"Baiklah, kami mengakui bahwa persaingan di antara kaum buruh, yang jelas tidak surut dengan adanya perdagangan bebas, akan segera menyerasikan upah-upah dengan rendahnya harga-harga barang-barang dagangan. Tetapi, di lain pihak, rendahnya harga-harga barang-barang dagangan akan meningkatkan konsumsi, dan semakin besarnya konsumsi akan memerlukan peningkatan produksi, yang akan disusul dengan lebih besarnya permintaan akan tenaga, dan lebih besarnya permintaan akan tenaga kerja akan disusul oleh suatu kenaikan upah-upah."Seluruh jalannya argumentasi berarti yang berikut ini: Perdagangan bebas meningkatkan tenaga-tenaga produktif. Jika industri terus bertumbuh, jika kekayaan, jika kekuatan produktif, jika-singkatnya-modal produktif meningkat, permintaan akan tenaga kerja, harga tenaga kerja, dan sebagai konsekuensinya tingkat upah-upah, naik juga.
Kondisi paling menguntungkan bagi kaum buruh adalah pertumbuhan modal. Ini mesti diakui. Jika modal tetap saja (tidak bergerak/stasioner), maka industri tidak hanya tetap saja (tidak bergerak) tetapi akan merosot, dan dalam kasus ini si buruh akan yang pertama menjadi korban. Ia akan menghadapi dinding sebelum si kapitalis. Dan dalam hal modal terus bertumbuh, dalam keadaan-keadaan yang kita katakan yang terbaik bagi si buruh, apakah yang menjadi nasibnya? Ia akan tetap menubruk dinding itu juga. Pertumbuhan modal produktif berarti akumulasi dan konsentrasi modal. Sentralisasi modal melibatkan suatu pembagian kerja yang lebih besar dan penggunaan mesin secara lebih luas. Lebih besarnya pembagian kerja terutama menghancurkan ketrampilan si pekerja; dan dengan menggantikan pekerjaan trampil ini dengan pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh siapapun, maka akan ditingkatkanlah persaingan di antara kaum buruh.
Persaingan ini menjadi semakin sengit karena pembagian kerja memungkinkan seorang pekerja tunggal melakukan pekerjaan tiga orang. Mesin menghasilkan hal serupa dalam skala jauh lebih besar. Pertumbuhan modal produktif yang memaksa kaum kapitalis industri bekerja dengan alat-alat yang terus-menerus meningkat, menghancurkan para industrialis kecil dan menghempaskan mereka menjadi proletariat. Kemudian, jatuhnya tingkat bunga dalam proporsi berakumulasinya modal, para rentenir kecil yang tidak dapat lagi hidup dari dividen-dividen mereka, terpaksa memasuki industri dan dengan demikian membengkakkan jumlah kaum proletar.
Demikianlah dengan bertumbuhnya modal produktif, persaingan di antara kaum buruh bertumbuh dalam proporsi yang jauh lebih besar. Anugrah kerja berkurang untuk semua pihak dan beban kerja meningkat bagi sementara pihak.
Pada tahun 1829 terdapat 1.088 pemintal kapas yang bekerja di 36 pabrik di Manchester. Pada tahun 1844 terdapat lebih dari 448 pabrik dan mereka mengerjakan 53.353 kumparan (buluh/gelondong) lebih banyak daripada yang dikerjakan 1.088 pemintal di tahun 1829. Jika pekerja manual telah meningkat dalam proporsi yang sama seperti tenaga produktif itu, maka jumlah pemintal mestinya telah mencapai angka 1.848 orang; kemajuan permesinan telah-oleh karenanya-merampas 1.100 pekerja dari pekerjaan.
Kita mengetahui sebelumnya jawaban para ahli ekonomi. Orang-orang yang dengan demikian terampas pekerjaan, demikian mereka berkata, akan mendapatkan jenis-jenis pekerjaan lainnya. Dr. Bowring mereproduksi argumen ini pada Kongres Para Ahli Ekonomi, tetapi ia juga mengemukakan penolakannya sendiri.
Pada tahun 1835 Dr. Bowring berpidato di Parlemen mengenai 50.000 penenun tangan kota London yang untuk waktu yang lama sekali menderita kelaparan karena tidak mendapatkan pekerjaan jenis baru yang diiming-imingkan para pedagang-bebas dari kejauhan.
Akan kita berikan di sini bagian-bagian pidato Dr. Bowring yang paling mencolok:
"Kecemasan para penenun ini…. adalah suatu kondisi yang tidak terelakkan dari jenis pekerjaan yang dapat dengan mudah dikuasai-dan terus-menerus diselangi dan digantikan oleh cara-cara produksi yang lebih murah. Suatu penghentian permintaan yang singkat, ketika persaingan akan pekerjaan itu begitu besarnya…. mengakibatkan suatu krisis. Para penenun tangan berada di pinggir keadaan di mana kehidupan manusia nyaris tidak dapat bertahan, dan suatu persoalan remeh-temeh saja menghempaskan mereka ke wilayah kelaparan…
Perbaikan-perbaikan permesinan,… dengan semakin digantikannya kerja manusia, tanpa bisa dicegah lagi membawa dengannya dalam peralihan itu banyak sekali penderitaan temporer…. Kebaikan nasional tidak dapat diperoleh kecuali dengan penyertaan keburukan individual. Tiada kemajuan pernah diciptakan di dalam manufaktur kecuali dengan biaya tertentu bagi mereka yang berada di urutan belakang; dan dari semua penemuan, mesin tenun adalah yang secara paling langsung membebani kondisi para penenun tangan. Ia sudah tergusur dari wilayah itu dalam banyak hal; ia secara tidak terelakkan akan dipaksa menyerah di banyak wilayah lainnya."
Lebih lanjut dikatakannya:
"Dalam tangan saya ada surat-menyurat yang berlangsung antara Gubernur Jendral India dan East-India Company, mengenai masalah para penenun tangan Dacca… Beberapa tahun berselang East -India Company per tahunnya menerima produk alat tenun India sebanyak 6 juta hingga 8 juta potong barang katun. Permintaan secara berangsur-angsur turun hingga 1 juta dan kini nyaris berhenti sama sekali. Pada tahun 1800, Amerika Serikat mengambil hyampir 800.000 potong katun dari India; dalam tahun 1830, tidak sampai 4.000. Dalanm tahun 1800, 1 juta potong dikapalkan ke Portugal; dalam tahun 1830, hanya 20.000. Sungguh mengerikan adalah laporan-laporan mengenai penderitaan para penenun miskin India, yang terpuruk hingga kelaparan total. Dan apakah yang menjadi sebabnya? Kehadiran manufaktur Inggris yang lebih murah… Jumlah besar dari mereka mati karena kelaparan, yang selebihnya, untuk sebagian besar, dipindahkan ke pekerjaan-pekerjaan lainnya, terutama ke agrikultural. Tidak berganti pekerjaan mereka berarti kelaparan yang pasti. Dan pada saat ini, ketika distrik Dacca disuplai dengan benang dan kain katun dari mesin-mesin tenun Inggris…. Kain muslin Dacca, yang termashur di seluruh dunia karena keindahan dan kehalusannya, juga dihancurkan karena sebab serupa. Dan penderitaan sekarang, bagi banyak klas di India, nyaris tidak terbandingi dalam sejarah perdagangan."Pidato Dr. Bowring semakin besar artinya karena fakta yang disebutkannya itu adalah sangat eksak, dan kalimat-kalimat yang dipakainya untuk melunakkan (fakta itu) sepenuhnya dikarakterisasi oleh kemunafikan yang bersifat umum pada semua kutbah perdagangan bebas. Ia mengemukakan kaum buruh sebagai alat produksi yang mesti digantikan oleh alat-alat produksi yang lebih murah. Ia berlagak melihat dalam kerja yang dibicarakan itu suatu jenis kerja yang sepenuhnya merupakan pengecualian, dan dalam mesin yang telah menggusur para penenun itu sebuah mesin yang sama luar-biasanya. Ia lupa bahwa tidak ada jenis kerja manual yang pada setiap saat dapat mengalami nasib yang sama dari para penenun tangan.
"Sesungguhnya, menjadi tujuan dan kecenderungan yang terus-menerus setiap perbaikan dalam permesinan untuk sama sekali menggantikan kerja manusia, atau untuk mengurangi ongkosnya dengan menggantikan kerja kaum laki-laki dengan kerja kaum perempuan dan anak-anak; atau dari para tukang terlatih dengan kerja pekerja biasa. Di kebanyakan pabrik katun tenaga air atau penganyam, pemintalan seluruhnya dikerjakan oleh kaum perempuan dari usia enambelas tahun ke atas. Akibat penggantian keledai biasa dengan keledai yang bergerak-sendiri adalah untuk melepaskan bagian besar pemintal laki-laki dan untuk mempertahankan remaja dan anak-anak."Kata-kata dari pedagang-bebas yang paling bersemangat, Dr. Ure ini, adalah untuk melengkapi pengakuan-pengakuan Dr. Bowring. Dr. Bowring berbicara tentang kebatilan-kebatilan individual tertentu, dan, bersamaan dengan itu, mengatakan bahwa kejahatan-kejahatan individual ini menghancurkan klas-klas secara menyeluruh; ia berbicara tentang penderitaan temporer selama periode peralihan, dan justru pada saat berbicara mengenai itui, ia tidak mengingkari bahwa kejahatan-kejahatan temporer ini bagi mayoritas berarti peralihan dari kehidupan pada kematian, dan bagi selebihnya orang berarti suatu peralihan dari keadaan yang lebih baik pada keadaan yang paling buruk. Jika ia menyatakan, selanjutnya, bahwa penderitaan kaum buruh ini tidak terpisahkan dari kemajuan industri, dan memang perlu bagi kemakmuran nasion, maka ia dengan seenaknya saja mengatakan bahwa kemakmuran klas borjuis mempersyaratkan penderitaan klas pekerja.
Segala hiburan yang ditawarkan Dr. Bowring pada kaum buruh yang mendapat celaka, dan sesungguhnyalah, seluruh doktrin mengenai kompensasi yang dikemukakan oleh para pedagang-bebas, adalah sebagai berikut:
Kalian, beribu-ribu kaum buruh yang sedang mendapat celaka, janganlah berputus-asa! Kalian dapat meninggal dengan hati-nurani yang bersih. Klas kalian tidak akan mendapat celaka. Ia akan selalu berjumlah cukup banyak bagi klas kapitalis untuk mencincang-cincangnya tanpa kemungkinan membasminya sampai habis. Kecuali itu, bagaimana modal dapat diterapkan secara menghasilkan jika ia tidak selalu menjaga pemeliharaan bahan yang dapat dieksploitasinya itu, yaitu kaum buruh, untuk mengeksploitasinya berulang kali?
Tetapi, kecuali itu, mengapa mengedepankan sebagai masalah yang masih harus dipecahkan: Pengaruh apakah yang dihadapi penerimaan perdagangan bebas itu atas kondisi kelas pekerja? Semua undang-undang yang dirumuskan oleh para ahli ekonomi politik dari Quesnay hingga Ricardo telah didasarkan atas hipostesis bahwa belenggu-belenggu yang masih mengganggu kebebasan perdagangan telah menghilang. Undang-undang ini telah dikonfirmasi secara proporsional dengan penerimaan perdagangan bebas. Yang pertama dari undang-undang ini ialah bahwa persaingan menurunkan harga setiap barang-dagangan ke ongkos produksi minimum.Dengan demikian maka upah-upah minimum adalah harga wajar dari kerja. Dan apakah upah-upah minimum itu? Ialah sebesar yang diperlukan bagi produksi barang-barang yang tidak bisa tidak ada bagi pemeliharaan kaum buruh, demi menempatkannya dalam suatu posisi untuk mempertahankan dirinya sendiri, betapapun buruknya, dan untuk mengembang-biakkan dirinya, betapapun terbatasnya.
Tetapi jangan membayangkan bahwa pekerja itu hanya menerima upah minimum ini, dan lebih-lebih lagi, bahwa ia selalu menerimanya.
Tidak, menurut hukum ini, klas pekerja kadang-kadang akan lebih mujur. Ia kadang-kala akan menerima sedikit di atas minimum itu, tetapi surplus ini hanya sekedar menutup defisit yang diterimanya di bawah minimum itu pada masa kemacetan industrial. Ini berarti, bahwa selama suatu waktu tertentu yang berlangsung secara berkala, di dalam daur yang dilalui industri sambil mengalami perubahan-perubahan dalam kesejahteraan, kelebihan produksi, stagnasi dan krisis, dengan memperhitungkan segala yang telah didapatkan oleh kelas pekjerja di atas dan di bawah kebutuhan-kebutuhan, kita akan melihat bahwa, dalam keseluruhannya ia tidak akan menerima lebih atau kurang daripada yang minimum itu: yaitu, klas pekerja bertahan diri sebagai suatu klas setelah menderitakan berapa saja kesengsaraan dan kemalangan, dan setelah meninggalkan banyak mayat di atas medan perang industrial. Lalu apa? Klas itu masih tetap eksis; bahkan lebih dari itu: ia telah meningkat jumlahnya.
Tetapi ini belum semuanya. Kemajuan industri menciptakan keperluan-keperluan hidup yang lebih murah. Demikianlah minuman-minuman keras telah menggantikan bir, katun menggantikan wol dan lenan, dan kentang menggantikan roti.
Demikianlah, dengan terus menerus ditemukannya cara-cara untuk memelihara kerja dengan makanan yang lebih murah dan menyedihkan, minimumnya upah-upah terus menerus berkurang. Jika upah-upah ini dimulai dengan membuat manusia bekerja untuk hidup, itu berakhir dengan membuatnya menjalani kehidupan sebuah mesin. Keberadaannya tidak mempunyai nilai telah daripada nilai sebuah tenaga produksi yang sederhana, dan si kapitalis memperlakukannya bersesuaian dengan itu.
Hukum kerja barang-dagangan ini, hukum upah-upah minimum, akan terus diperkuat dalam proporsi sebagaimana perkiraan kaum ahli ekonomi, perdagangan bebas, menjadi suatu kenyataan aktual. Demikianlah, dari dua hal itu: atau kita mesti menolak semua ekonomi politik yang didasarkan atas asumsi perdagangan bebas, atau kita mesti mengakui bahwa di bawah perdagangan bebas ini, seluruh keparahan hukum-hukum ekonomi akan jatuh ke atas bahu kaum pekerja.
Sebagai kesimpulan, apakah perdagangan bebas itu di bawah kondisi-kondisi masyarakat sekarang? Ia adalah kebebasan modal. Manakala penghalang-penghalang nasional yang masih membatasi kemajuan modal itu telah ditumbangkan, maka itu cuma berarti telah diberikan kebebasan penuh untuk beraksi. Selama hubungan kerja upahan dan modal dibiarkan eksis, tidaklah penting mengenai betapa menguntungkan kondisi-kondisi pertukaran barang-barang dagangan berlangsung, selalu akan ada suatu klas yang akan mengeksploitasi dan suatu klas yang akan dieksploitasi. Sungguh sulit dimengerti klaim para pedagang-bebas yang membayangkan bahwa semakin menguntungkannya penerapan modal akan menghapuskan antagonisme di antara para kapitalis industrial dan buruh upahan. Sebaliknya, satu-satunya hasil ialah bahwa antagonisme dari kedua klas ini akan menonjol dengan semakin jelasnya.
Marilah kita untuk sesaat lamanya berasumsi bahwa tidak ada lagi Undang-undang Gandum atau bea-bea masuk lokal atau nasional; kenyataannya bahwa semua keadaan aksidental yang dewasa ini dipandang oleh kaum buruh sebagai penyebab keadaannya yang menyedihkan itu telah sepenuhnya lenyap, dan anda akan menyingkirkan begitu banyak tirai yang telah menyembunyikan musuh-sesungguhnya dari penglihatan anda.
Ia akan melihat bahwa menjadi bebasnya modal tidak akan lebih mengurangi kenyataan dirinya sebagai budak ketimbang dari modal yang diganggu habis oleh bea-bea masuk.
Tuan-tuan! Jangan biarkan diri kalian dikecohkan oleh kata abstrak kebebasan itu. Kebebasan siapa? Itu bukan kebebasan dari seorang individu dalam hubungannya dengan individu lainnya, tetapi adalah kebebasan modal untuk menggencet kaum buruh.
Buat apa menghasratkan diperkenankannya persaingan bebas dengan ide kebebasan ini, ketika kebebasan hanyalah produk dari suatu keadaan yang didasarkan pada persaingan bebas?
Kita telah menunjukkan jenis apakah yang telah diperoleh persaudaraan perdagangan bebas di antrara berbagai klas dari nasion yang satu dan sama itu. Persaudaraan yang akan ditegakkan oleh perdagangan bebas antara bangsa-bangsa di atas bumi ini akan nyaris lebih bersaudara. Menyebutkan eksploitasi kosmopolitan sebagai persaudaraan universal adalah suatu gagasan yang hanya mungkin dilahirkan dalam benak klas burjuasi. Semua gejala destruktif yang ditimbulkan oleh persaingan tanpa batas di suatu negeri telah direproduksi dalam proporsi-proporsi yang lebih meraksasa di pasar dunia. Kita tidak perlu membahas lebih lanjut mengenai sofisme perdagangan bebas perihal ini, yang nilainya cuma sederajat argumen-argumen para pemenang-hadiah kita: tuan-tuan Hope, Morse dan Greg.
Misalnya, kita diberitahu bahwa perdagangan bebas akan menciptakan suatu pembagian kerja internasional, dan dengan begitu memberikan produksi pada setiap negeri yang paling selaras dengan kelebihan-kelebihan alamnya
Mungkin kalian percaya, tuan-tuan, bahwa produksi kopi dan gula adalah takdir alami dari Hindia Barat.
Dua abad yang lalu, alam yang tidak merepotkan dirinya dengan perdagangan, tidak menanamkan tebu ataupun pohon-pohon kopi di sana.
Dan mungkin saja bahwa dalam waktu kurang dari setengah abad anda tidak akan menemui di sana kopi maupun gula, karena Hindia Timur, dengan cara produksi yang lebih murah, telah berhasil melawan yang dianggap takdir alami dari Hindia Barat. Dan Hindia Barat dengan kekayaan alamnya, sudah menrupakan suatu beban berat bagi Inggris seperti para penenum Dacca, yang juga ditakdirkan sejak awal zaman bertenun dengan tangan.
Satu hal yang jangan sampai dilupakan, yaitu, bahwa dengan menjadinya segala sesuatu suatu monopoli, dewasa ini terdapat juga beberapa cabang industri yang mendominasi semua industri lainnya, dan menjamin pada bangsa yang paling berhasil membudidayakannya, kekuasaan atas pasar dunia. Demikianlah dalam perdagangan internasional hanya kapas yang memiliki arti penting komersial yang jauh lebih besar daripada semua bahan mentah lainnya yang digunakan dalam manufaktur pakaian. Sungguh ganjil melihat para pedagang-bebas memberi penekanan pada beberapa pengistimewaan di setiap cabang industri, melemparkan itu ke dalam perimbangan terhadap produk-produk yang dipakai dalam konsumsi sehari-hari dan yang diproduksi secara paling murah di negeri-negeri di mana manufaktur telah berkembang paling maju.
Jika kaum pedagang-bebas tidak dapat mengerti bagaimana satu nasion dapat bertumbuh kaya sekali dengan merugikan nasion lain, kita tidak perlu heran, karena tuan-tuan yang sama ini pula yang juga menolak untuk memahami bagaimana di dalam satu negeri satu klas dapat memperkaya dirinya sendiri dengan merugikan klas lainnya.
Jangan berkhayal, tuan-tuan, bahwa dalam mengkritik perdagangan bebas kita sekurang-kurangnya beriktikad untuk membela sistem perlindungan/proteksi.
Orang boleh-boleh saja menyatakan dirinya sebagai musuh rejim konstitusional tanpa menyatakan dirinya seorang sahabat dari rejim lama .
Lagi pula, sistem proteksionis tidak lain dan tidak bukan hanyalah satu cara untuk menegakkan industri skala besar di suatu negeri tertentu, yaitu, membuatnya bergantung pada pasar dunia, dan dari saat ditegakkannya ketergantungan pada pasar dunia itu, sudah ada kurang-lebih suatu ketergantungan pada perdagangan bebas. Di samping itu, sistem proteksionis membantu pengembangan persaingan bebas di dalam suatu negeri. Karena itu kita melihat bahwa di negeri-negeri di mana kaum burjuasi mulai membuat dirinya dirasakan sebagai suatu klas, di Jerman misalnya, ia nelakukan usaha-usaha kuat untuk memperoleh bea-bea masuk protektif. Ini dipakai oleh burjuasi sebagai senjata-senjata melawan feodalisme dan pemerintahan absolut, sebagai alat untuk mengonsentrasikan kekuatan-kekuatannya sendiri dan bagi realisasi perdangan bebas di dalam negeri itu pula.
Tetapi, pada umumnya, sistem protekstif zaman sekarang adalah bersifat konservatif, sedangkan sistem perdagangan bebas adalah destruktif. Ia membongkar nasionalitas-nasionalitas lama dan mendorong antagonisme dari proletariat dan burjuasi pada titik paling ekstrem. Singkat kata, sistem perdagangan bebas mempercepat revolusi sosial.
Adalah dalam pengertian revolusioner ini saja, tuan-tuan, saya menyatakan persetujuan saya mengenai perdagangan bebas.
ooo0ooo
Read more...

Tentang Proudhon

Karl Marx
Tentang Proudhon
Surat kepada J.B. Schweitzer, 24 Januari 1865
Versi Online : Indomarxist.Net, Http://come.to/indomarxist, 2 Juni 2003
Kontributor :
Edi Cahyono


Saudara yang tercinta,
Kemarin saya menerima sepucuk surat dan dalam surat itu saudara mengajukan permintaan kepada saya untuk memberikan penilaian yang mendetail tentang Proudhon. Ketiadaan waktu merupakan penghalang bagi saya untuk memenuhi keinginan saudara itu. Tambahan pula, sekarang ini saya tidak memiliki satupun karya-karyanya. Meskipun demikian, untuk menunjukkan maksud baik saya terhadap saudara, maka saya dengan tergesa-gesa menuangkan suatu kerangka yang amat ringkas. Kemudian saudara bisa melengkapinya, menambahnya, menguranginya-pendek kata, perbuatlah apa yang saudara inginkan dengan kerangka itu.
Usaha-usaha Proudhon yang pertama sekali saya tidak ingat lagi. Tulisannya ketika dia masih duduk di bangku sekolah, Bahasa Universal, menunjukkan bahwa dia tidak mempunyai keragu-raguan sedikitpun dalam menghadapi persoalan-persoalan yang untuk pemecahannya dia sama sekali tidak mempunyai dasar-dasar pokok pengetahuan.
Karyanya yang pertama, What is Property?, tentunya adalah karyanya yang terbaik. Karya itu membuat sejarah, jika bukan karena kebaruan isinya, setidak-tidaknya karena cara baru dan berani yang dipakainya untuk menyatakan hal-hal yang lama. Di dalam karya-karya kaum Sosialis dan Komunis Perancis yang diketahuinya, "milik", sudah tentu, bukan saja telah dikritik dengan berbagai jalan tetapi "ditiadakan" pula dengan cara yang utopis. Di dalam bukunya itu hubungan Proudhon dengan Saint-Simon dan Fourier adalah hampir sama dengan hubungan Feurbach dengan Hegel. Jika dibandingkan dengan Hegel, Feuerbach amat kerdil. Meskipun demikian sesudah Hegel dia membuat sejarah, karena dia memberikan tekanan pada hal-hal tertentu yang tidak menyenangkan bagi kesadaran Kristen di samping hal-hal itu penting bagi kemajuan kritik, dan yang ditinggalkan Hegel di dalam setengah-kegelapan yang mistik.
Di dalam buku Proudhon itu masih terdapat, jika saya diperbolehkan menggunakan pernyataan, langgam yang berotot kuat. Dan menurut pendapat saya langgamnya itu adalah keunggulannya yang utama. Orang melihat bahwa di tempat dia hanya mengulangi kembali bahan-bahan lama sekalipun, Proudhon menemukan penemuan-penemuan yang berdiri sendiri: bahwa apa yang diucapkannya adalah baru bagi dia sendiri dan maka itu termasuk dalam hal-hal yang baru. Tantangan yang bersifat provokatif, menggunakan "yang tersuci di antara yang suci" dari hal-hal ekonomi, paradoks yang amat baik yang menjadikan common sense borjuis suatu tertawaan, kritik yang melajukan, ironi yang getir, dan, di sana-sini, terloncat perasaan amarah yang dalam dan sejati terhadap kekejian yang ada, ke sungguh-sungguhan revolusioner-karena semua itulah maka What is Property? mempunyai pengaruh yang mempesona dan menimbulkan kesan yang besar ketika pertama kali terbit. Dalam sejarah ekonomi politik yang betul-betul ilmiah buku itu untuk disebutkan pun tidak akan pantas. Tetapi karya-karya sensasionil yang semacam itu melakukan peranannya di bidang ilmu sebanyak yang dilakukannya di bidang literatur sopan. Ambillah sebagai misal, buku Malthus On Population. Pada edisinya yang pertama buku itu tidak lebih daripada "pamflet sensasional" dan dari awal hingga akhir merupakan plagiarisme. Tetapi, meskipun demikian betapa besarnya rangsang ditimbulkan oleh tulisan yang bersifat fitnahan atas ras manusia itu!
Seandainya di depan saya ada buku Proudhon maka dengan mudah saya dapat memberikan beberapa contoh untuk mengilustrasikan caranya yang pertama itu. Di dalam bagian-bagian yang dia sendiri menganggap bagian-bagian yang amat penting dia meniru perlakuan Kant terhadap antinomi-pada waktu itu Kant adalah satu-satunya ahli filsafat Jerman yang dikenalnya lewat terjemahan-dan meninggalkan kesan yang kuat pada seseorang bahwa baginya, seperti bagi Kant, pemecahan atas antinomi itu adalah sesuatu yang berada "di luar" pemahaman manusia, yaitu, sesuatu yang pemahamannya sendiri tentang itu berada di dalam kegelapan.
Tetapi meskipun dia mengadakan serangan pura-pura terhadap surga, di dalam What is Property? sudah dapat ditemukan kontradiksi-kontradiksi bahwa, di satu pihak, Proudhon mengkritik masyarakat dari segi dan dengan mata kaum tani pemilik kecil Perancis (kemudian borjuis-kecil) dan, di fihak lain, menggunakan ukuran yang diwarisinya dari kaum Sosialis.
Kelemahan buku itu ditunjukkan oleh judulnya itu sendiri. Masalah itu diajukan sebegitu salahnya sehingga ia tidak bisa dijawab dengan tepat. "Hubungan milik" kuno menemukan kehancurannya pada hubungan milik feodal, dan hubungan milik feodal itu pada hubungan milik "borjuis". Dengan demikian maka sejarah itu sendiri telah melaksanakan kritiknya terhadap hubungan-hubungan milik masa lampau. Dengan Proudhon soalnya sesungguhnya ialah milik borjuis modern sebagaimana adanya sekarang ini. Masalah apa milik borjuis modern itu hanya dapat dijawab dengan mengadakan analisa yang kritis atas "ekonomi politik" yang meliputi hubungan-hubungan milik itu dalam keseluruhannya, bukan dalam pernyataan hukumnya sebagai hubungan kemauan tetapi dalam bentuknya yang sesungguhnya, yaitu, sebagai hubungan produksi. Tetapi karena Proudhon mengacaukan seluruh hubungan ekonomi itu di dalam konsepsi yuridis yang umum dari "milik", maka dia tidak bisa melampaui jawaban yang telah diberikan Brissot sebelum tahun 1789 dalam karya yang sama, dan diajukan dengan kata-kata yang sama: "Milik adalah pencurian."
Paling banyak yang dapat ditarik dari situ ialah bahwa konsepsi yuridis borjuis tentang "pencurian" sama berlakunya bagi keuntungan-keuntungan "yang jujur" dari borjuis itu sendiri. Di pihak lain, karena "pencurian" sebagai pelanggaran yang bersifat paksa atas milik bersyarat pada adanya milik, Proudhon melibatkan dirinya dalam segala macam kemauan yang bersifat khayalan, yang baginya pun tidak jelas, tentang milik borjuis yang sesungguhnya.
Selama saya berada di Paris dalam tahun 1844 saya mengadakan kontak pribadi dengan Proudhon. Hal itu saya sebutkan di sini karena hingga batas-batas tertentu saya pun bersalah atas "tiruan"-nya, seperti orang Inggris menamakan pemalsuan barang-barang yang diperdagangkan. Selama berlangsung perdebatan yang lama, sering sampai semalam suntuk, saya menularinya dengan Hegelianisme, hal yang menyebabkan dia merasa tersinggung, dan yang, karena dia tidak begitu menguasai bahasa Jerman, tidak bisa dipelajari dengan selayaknya. Setelah saya diusir dari Paris Herr Karl GrĂ¼n meneruskan apa yang telah saya mulai. Sebagai seorang guru filsafat Jerman, dia mempunyai segi yang menguntungkan jika dibandingkan dengan saya, yaitu bahwa dia sendiri sama sekali tidak mengetahui hal itu.
Tidak lama sebelum terbit karya penting Proudhon yang kedua, The Philosophy of Poverty or System of Economic Contradictions, dan sebagainya, dia sendiri memberitahukan hal itu kepada saya dalam sepucuk surat yang mendetil yang didalamnya dia mengatakan, antara lain: "Saya menunggu kritik saudara yang keras." Hal itu segera tiba padanya (dalam buku saya Poverty of Philosophy, dan seterusnya, Paris 1847), sedemikian rupa sehingga mengakhiri persahabatan kami untuk selama-lamanya.
Dari apa yang telah saya katakan tadi akan dapat saudara lihat bahwa The Philosophy of Poverty or System of Economic Contradictions Proudhon pertama nyatanya mengandung jawaban atas pertanyaan, "Apa milik itu?" Nyatanya hanyalah sesudah terbit karyanya itu baru dia memulai studi ekonominya; dia telah menemukan bahwa masalah yang diajukannya tidak dapat dijawab dengan cacian, tetapi hanya dengan analisa atas "ekonomi-politik" modern. Bersamaan dengan itu dia mencoba mengajukan sistem kategori-kategori ekonomi secara dialektik. Sebagai ganti "antinomi" Kant yang tidak bisa dipecahkan "Kontradiksi" Hegel dimasukkan sebagai cara perkembangan.
Untuk mengadakan penilaian terhadap bukunya yang terdiri dari dua jilid yang amat tebal, saya terpaksa menunjuk saudara pada karya yang saya tulis sebagai jawaban. Dalam karya itu saya menunjukkan, antara lain betapa dangkalnya dia menyelami rahasia dialektika ilmiah; bagaimana, di pihak lain, dia mempunyai juga ilusi tentang filsafat spekulatif, karena dia bukannya memikirkan kategori ekonomi sebagai pernyataan teoritis dari hubungan produksi yang mengalami sejarah, yang sesuai dengan tingkat tertentu dari perkembangan produksi material, tetapi sebaliknya dia memalsunya menjadi ide-ide yang ada sebelumnya, yang abadi; dan bagaimana dengan cara yang berbelit-belit itu sekali lagi dia sampai pada pendirian ekonomi borjuis.1)
Selanjutnya saya menunjukkan juga bagaimana mutlaknya kurangnya dan dalam bagian-bagian bahkan betapa keanak-sekolahan pengetahuannya tentang "ekonomi politik" yang dikritiknya, dan bagaimana dia dan kaum utopis bukannya menjadikan ilmu bersumber dari pengetahuan kritis terhadap gerakan sejarah, gerakan yang menghasilkan sendiri syarat-syarat material pembebasan, tapi mencari-cari sesuatu yang dinamakan "ilmu" yang dengannya suatu rumus untuk "pemecahan masalah sosial" a priori dipikirkan. Tetapi secara khusus harus disebutkan tentang bagaimana tetap kacaunya, salah dan setengah matanya ide-ide Proudhon mengenai basis seluruh soal itu, nilai tukar, dan bagaimana dia bahkan memahami secara salah interpretasi yang utopis dari teori nilai Ricardo sebagai dasar ilmu baru. Mengenai pendiriannya pada umumnya, saya mengadakan penilaian yang menyeluruh sebagai berikut ini:
"Setiap hubungan ekonomi mempunyai segi baik dan segi jeleknya: itulah satu-satunya soal tentang mana M. Proudhon tidak menipu dirinya sendiri. Dia melihat segi baik yang ditekankan oleh ahli-ahli ekonomi; dia melihat segi jelek yang dikutuk kaum Sosialis. Dari ahli-ahli ekonomi dia meminjam kebutuhan akan hubungan-hubungan abadi; dari kaum Sosialis dia meminjam ilusi bahwa dalam kemiskinan tidak ada sesuatu pun yang dapat dilihat kecuali kemiskinan (dia bukannya melihat dalam kemiskinan segi revolusioner, subversif yang akan menggulingkan masyarakat lama). Dia sependapat dengan mereka keduanya dalam usahanya mengutip otoritas ilmu untuk mendukungnya. Baginya ilmu merendahkan diri pada ukuran yang sempit yang terdiri dari rumus-rumus ilmiah; dia adalah seorang pemburu rumus. Oleh karena itu maka M. Proudhon menepuk dadanya bahwa dia telah mengkritik baik ekonomi politik maupun Komunisme-dia berada lebih rendah daripada ke dua-duanya. Lebih rendah daripada ahli-ahli ekonomi, karena sebagai seorang filsuf yang mempunyai rumus sakti sebagai kekuatannya, dia berpikir bahwa dia dapat meniadakan usaha menyelami soal-soal ekonomi semata sampai kepada yang sekecil-kecilnya; lebih rendah daripada kaum Sosialis, karena tidak mempunyai cukup keberanian maupun cukup pengertian untuk bisa mengangkat dirinya, meskipun secara spekulatif saja, di atas penilaian borjuis. Dia ingin terbang tinggi sebagai sarjana di atas borjuis dan kaum proletar; dia tidak lain dari borjuis-kecil yang senantiasa terombang-ambing antara kapital dan kerja, antara ekonomi politik dan Komunisme."
Meskipun penilaian di atas kedengarannya tajam, saya tetap harus membenarkan setiap katanya kini. Tetapi, bersamaan dengan itu, harus diingat bahwa ketika saya menyatakan bukunya sebagai kode Sosialisme borjuis-kecil dan membuktikan hal itu secara teori, Proudhon masih tetap dicap sebagai seorang ultra-maha-revolusioner baik oleh ahli-ahli ekonomi politik maupun oleh kaum Sosialis. Itulah pula alasannya mengapa saya tidak pernah ikut serta dalam teriakan yang terjadi kemudian tentang "pengkhianatan"-nya terhadap revolusi. Sejak awalnya salah dipahami oleh yang lain-lain serta oleh dia sendiri, maka bukanlah kesalahannya jika dia mengecewakan harapan-harapan yang tiada beralasan.
Dalam The Philosophy of Poverty segenap kelemahan metode mengajukan dari Proudhon muncul dengan sangat tidak menguntungkan jika dibandingkan dengan What is Property? Langgamnya ialah langgam yang sering disebut orang Perancis ampoule (bombastis). Logat spekulatif yang lantang-suaranya, yang dianggap sebagai filsafat Jerman, secara teratur muncul di atas panggung ketika kelincahan Gallicnya dalam memahami sesuatu tidak bisa menyelamatkannya. Nada yang membusungkan dada, yang mengagung-agungkan diri sendiri, yang angkuh, dan terutama racauan yang tak henti-henti tentang "ilmu" dan pertunjukan yang palsu tentang hal itu, yang selalu begitu tidak bermanfaat, terus-menerus berdengung di telinga orang. Di dalam buku itu secara sistematis bagian-bagian tertentu diolah melalui kata-kata yang mentereng menjadi demam panas yang berlangsung sementara, berbeda dengan kehangatan yang asli yang membara dalam tulisannya yang pertama. Sebagai tambahan, pertunjukan yang kikuk, memuakan dari pengetahuan orang yang belajar sendiri, yang keangkuhan pembawaannya pada fikiran-fikiran yang asli, merdeka telah dipatahkan dan yang sekarang, sebagai parvenu2) ilmu, mengganggap perlu menggembar-gemborkan apa yang dia bukan atau apa yang tidak dimilikinya. Kemudian mentalitas borjuis-kecil, yang dengan cara kebinatangan yang tidak sopan sedikitpun-dan tidak tajam maupun tidak mendalam serta tidak pula tepat-menyerang orang seperti Cabet, agar dihargai karena sikap praktisnya terhadap proletariat Perancis, di pihak lain bersikap sopan terhadap orang seperti Dunoyer (seorang Kanselir Negara, sudah tentu); dan lagi seluruh arti Dunoyer itu terletak dalam keseriusan yang lucu dengan mana, di seluruh tiga jilid yang tebal, yang sangat membosankan, dia mengkotbahkan kekerasan yang dikarekterisasi oleh Helvetius sebagai berikut: dari yang malang dituntut keharusan menjadi sempurna.
Revolusi Pebruari pasti tiba pada saat yang amat tidak menyenangkan bagi Proudhon, karena hanya beberapa minggu sebelumnya dia telah membuktikan secara tak tersangkal bahwa "zaman revolusi" telah berlalu untuk selama-lamanya. Ucapan-ucapannya di dalam Dewan Nasional, betapa pun dangkal pandangannya terhadap syarat-syarat yang ada, pantas mendapat pujian. Sesudah pemberontakan Juni ucapan-ucapan itu merupakan perbuatan yang penuh dengan keberanian yang tinggi. Tambahan pula ucapan-ucapan itu mempunyai akibat yang menguntungkan, yaitu bahwa M. Thiers, dengan pidatonya yang menentang usul-usul Proudhon, yang pada waktu itu diterbitkan dalam penerbitan tersendiri, membuktikan kepada seluruh Eropa katekisme3) kekanak-kanakan yang bagaimana yang mengabdi sebagai sokoguru spiritual borjuis Perancis. Sungguh, jika dibandingkan dengan M. Thiers, Proudhon melembung sehingga dia menjadi sebesar kolossus sebelum-dilivium.4)
Penemuan Proudhon tentang "kredit bebas" dan "bank Rakyat" yang didasarkan pada "kredit bebas" itu adalah "karya" ekonominya yang terakhir. Di dalam buku saya, A Contribution To The Critique of Political-Economy, bagian I, Berlin 1859 (hal. 59-64), dapat ditemukan bukti bahwa basis teori dari idenya timbul dari kegagalan memahami unsur-unsur pertama "ekonomi politik" borjuis, yaitu, tentang hubungan antara barang-dagangan dengan uang, sedangkan bangunan atas praktisnya hanyalah reproduksi skema yang jauh lebih tua dan berkembang lebih baik. Bahwa dalam keadaan ekonomi dan politik tertentu sistem kredit dapat berlaku dalam mempercepat pembebasan klas buruh, seperti, misalnya, di awal abad ke delapanbelas, dan lagi kemudian, pada awal abad ke sembilanbelas, di Inggris, ia mengabdi dalam memindahkan kekayaan klas yang satu ke klas yang lain, tanpa keraguan sedikitpun adalah dengan sendirinya jelas. Tetapi menganggap kapital mengandung rente sebagai bentuk pokok kapital, tetapi ingin menggunakan sistem kredit secara istimewa, yang dianggap penghapusan atas rente dasar bagi pengubahan masyarakat, adalah sepenuhnya khayalan filistin. Maka itu khayalan itu, jika diulur lebih jauh, nyatanya telah terdapat di kalangan juru-bicara ekonomi klas tengah Inggris lapisan bawah abad ke tujuhbelas. Polemik Proudhon dengan Bastiat (1850) tentang kapital mengandung-rente berada pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada The Philosophy of Poverty. Dia berupaya menjadikan dirinya terpukul bahkan oleh Bastiat dan memuntahkan racauan yang membanyol ketika musuhnya memberikan pukulan yang menyadarkan.
Beberapa tahun yang lalu Proudhon-atas permintaan, menurut fikiran saya, pemerintah Lausanne-menulis esai berhadiah tentang "Pajak". Pada esai itu semangatnya telah padam. Tiada yang tersisa kecuali borjuis-kecil semata.
Mengenai tulisan-tulisan politik dan filsafatnya seluruhnya menunjukkan sifat yang mengandung kontradiksi, ganda seperti karya-karya ekonominya. Lagi pula nilainya pun bersifat lokal, terbatas pada Perancis. Meskipun demikian serangannya terhadap agama, gereja, dan sebagainya pada saat kaum Sosialis Perancis menganggap cukup mempunyai syarat untuk menjadi unggul dalam hal-hal religi daripada Voltairisme borjuis abad ke delapanbelas dan ketidak-percayaan Jerman akan Tuhan dari abad ke sembilanbelas secara lokal mempunyai manfaat yang besar. Jika Peter Agung mengalahkan kebiadaban Rusi dengan kebiadaban, maka Proudhon berusaha sekuat tenaga menaklukan omong-kosong Perancis dengan kata-kata.
Karyanya tentang "Kudeta", yang di dalamnya dia bermesraan dengan L. Bonaparte dan, menurut kenyataannya, berusaha membuat Bonaparte makanan lezat bagi kaum buruh Perancis, dan dalam karyanya yang terakhir, yang ditulisnya menentang Polandia, dia untuk keagungan yang lebih besar dari tsar secara berlebih-lebihan meperbolehkan dirinya terlibat dalam sinisme yang amat tak berdaya, harus dikarakterisasi bukan sebagai karya yang jelek saja, tetapi sebagai karya yang hina; hanya, kehinaan yang sesuai dengan pendirian borjuis-kecil.
Di masa yang lalu Proudhon sering dibandingkan dengan Rosseau. Tidak ada sesuatu yang lebih salah daripada itu. Dia lebih menyamai Nic. Linquet, yang Teori Hukum Sipil-nya, sepintas lalu, merupakan buku yang amat cemerlang.
Proudhon mempunyai kecenderungan alamiah akan dialektika. Tetapi karena dia tidak pernah menguasai dialektika ilmiah yang sejati, maka dia tidak pernah melangkah lebih jauh dari sofistri.5) Sesungguhnya hal itu bersatu dengan pendirian borjuis-kecilnya. Seperti halnya sejarawan Raumer, borjuis-kecil itu terdiri dari di satu sisi dan di lain sisi. Hal itu begitu itu untuk kepentingan ekonominya dan maka itu untuk kepentingan politiknya, untuk kepentingan pendirian agama, ilmu dan artistiknya. Begitu pula dalam hal moralnya, dalam segala-galanya. Dia merupakan kontradiksi yang hidup. Jika, seperti Proudhon, dia juga seorang yang cerdik, segera dia akan belajar bermain dengan kontradiksi-kontradiksinya sendiri dan sesuai dengan keadaan mengembangkan kontradiksi-kontradiksi itu menjadi paradoks yang menyolok, menakjubkan, kadang-kadang menimbulkan fitnah, kadang-kadang brilian. Carlatanisme (penipuan) di bidang ilmu dan menyesuaikan diri dalam politik merupakan hal-hal yang tidak terpisahkan dari pendirian yang semacam itu. Akan tinggal hanya satu motif yang menentukan, keangkuhan subyeknya, dan satu-satunya masalah baginya, seperti halnya bagi semua orang yang angkuh, ialah sukses di saat itu, sensasi di hari itu. Maka itu kebijaksanaan etika yang sederhana, yang selalu menempatkan seorang Rousseau, misalnya, di tempat yang sama sekali tidak mengandung kompromi dengan kekuasaan yang ada, seharusnya melenyap.
Ada kemungkinan bahwa manusia dikemudian hari akan membuat ikhtisar tentang tingkat terakhir perkembangan Perancis dengan mengatakan bahwa Louis Bonaparte adalah Napoleon-nya dan Proudhon Rousseau-Voltaire-nya.
Saudara sendirilah sekarang yang harus memikul tanggung-jawab membebani saya, segera setelah orangnya meninggal, dengan peranan hakim postmortem (pemeriksa mayat).
Hormat Saya,
Karl Marx
Catatan: 1) "Jika mereka katakan bahwa hubungan-hubungan masa kini-hubungan-hubungan produksi borjuis-adalah wajar, yang dimaksudkan ahli-ahli ekonomi itu ialah bahwa hubungan-hubungan itu adalah hubungan yang di dalamnya kekayaan diciptakan dan tenaga-tenaga produktif berkembang sesuai dengan hukum-hukum alam. Jadi hubungan-hubungan itu dengan sendirinya merupakan hukum-hukum alamiah lepas dari pengaruh waktu. Hubungan-hubungan itu adalah hukum-hukum abadi yang harus senantiasa mengatur masyarakat. Jadi di masa yang silam ada sejarah, tetapi sekarang tidak ada lagi." (hal. 113 karya saya)
2) Orang yang mendadak menjadi kaya atau mendapat kedudukan tinggi dan menjadi angkuh.
3) Cara mengajar, biasanya agama Kristen, melalui tanya-jawab. Yang terjadi adalah pengetahuan yang dihafalkan dan sepotong-sepotong.
4) Patung yang amat besar di masa sebelum terjadinya banjir-bandang di jaman nabi Nuh.
5) Berpikir cepat namun salah.
ooo0ooo
Read more...
 
Indo-Marxist © 2011 Situs Marxisme Dalam Bahasa Indonesia. Terbit pertama kali pada 14 Januari 2000. Klik di sini untuk melihat situs sebelumnya.